Kalkulatif.com

Manfaat Mikroba Pada Pertumbuhan Tanaman

Manfaat Mikroba Pada Pertumbuhan Tanaman

Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut fosfat antara lain adalah : gandum, bit gula, kubis, tomat, barlei jagung, kentang, padi, kedelai, kacang panjang, dan tebu.

B megaterium mampu meningkatkan serapan fosfat tanaman kedelai. Sedangkan ke dua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut - turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP, serta meningkatkan 34 dan 18% jika digunakan batuan fosfat.

Pada Tanaman gandum, mengkombinasikan bakteri pelarut (B. Polymixa dan P. Striata) dengan bakteri penambat N2 udara. Ternyata bakteri pelarut dapat menstimulir pertumbuhan A. Chroococum, tetapi bakteri penambat n tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut. Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat.

Pada tanaman jagung, Citrobakter intermedium dan Pseudomonas putida mampu meningkatkan serapan tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% dan mikroba ini stabil sampai lebih 4 bulan pada media pembawa zeolit, tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. Inokulasi dengan Enterobacter gergovide pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%, sedangkan yang menguji Aspergillus niger, menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama.

Pada tanaman tebu, penggunaan bakteri pelarut P. putida dan P. fluorescens dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5 - 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk asal TSP sebanyak 60 - 135%.

Gandum, bit gula, kubis, tomat, barlei jagung, kentang, padi, kedelai, kacang panjang, dan tebu yang digunakan meliputi akar dan tanah tempat tumbuhnya serta batang sampai daun.

Fosfor relatif tidak mudah tercuci, tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari yang tersedia menjadi tidak tersedia, yaitu dalam bentuk Ca-P, Mg-p, Al-P, Fe-P. Dalam aktifitasnya, mikroba pelarut akan menghasilkan asam - asam organik, diantaranya ialah asam sitrat, glutamat, suksinat, laktat, oksalat, glioksalat, malat, fumarat, tartarat dan alpha-ketobutirat. Asam organik mampu meningkatkan ketersediaan di dalam tanah melalui beberapa mekanisme, diantaranya adalah : anion organik bersaing dengan ortofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif dan pelepasan ortofosfat dari ikatan logam-p melalui pembentukan komplek logam organik serta modifikasi muatan permukaan tapak jerapan oleh ligan organik.

Mikroba menghasilkan asam - asam organik tersebut melalui proses katabolisme glukosa dan siklus asam trikarboksilat (TCA), yang merupakan kelanjutan dari reaksi glikolisis. Asam - asam ini merupakan substrat untuk proses anabolisme dalam sintesis asam amino dan makromolekul lain. Pseudomonas putida, Citrobacter intermedium dan serratia mesenteroides yang digunakan adalah bakteri yang mampu meningkatkan kelarutan yang ada dalam medium AIPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6 - 19 kali lipat, tetapi tidak mampu melarutkan FePO4. Selanjutnya hasil penelitian menunjukkan bahwa Pseudomonas putida dan Pseudomonas fluorescens mampu meningkatkan terekstrak pada tanah masam sampai 50%, sedangkan pada tanah bereaksi basa Pseudomonas putida mampu meningkatkan yang terekstrak sebesar 10%. Penelitian ini memperlihatkan bahwa Pseudomonas putida mampu meningkatkan kelarutan pada tanah ultisol.

Mikroba pelarut sangat efektif tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh, terutama oleh mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, Pseudomonas putida, dan Pseudomonas striata. Mikroba - mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat dan asam gliberilin.

Beberapa bakteri pelarut fosfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah dan potensialnya sebagai agen biokontrol untuk digunakan secara komersial di rumah kaca maupun di lapangan. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping off dari tebu. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol, suatu metabolit sekunder yang dapat menghalangi dumping-off phytium ultium. Di samping itu, bakteri Pseudomonas putida ini juga dapat mengontrol perkembangan jamur Sclerotium roefsii pada tanaman kacang - kacangan.

2018-09-30T10:27+07:00
About Disclaimer Contact © 2018 Kalkulatif.com